Bagi para administrator jaringan lokal, khususnya jaringan di sekolah kejuruan yang memiliki jurusan Teknik Komputer dan Jaringan. Pasti bakal pusing jika terjadi ‘tabrakan’ IP. Jadilah sibuk melakukan pencarian dimana lokasi IP yang ber-‘tabrakan’ tadi. Solusinya?

Pake DHCP Server aja dan alamat IP semua klien di-set otomatis. Trus, bagaimana nge-install-nya? Nah, di sini aku contohin pake Linux Mint aja, pada prinsipnya semua Linux sama. Ikutin ya…

Pertama, sudah pasti harus install Linux Mint dulu ^_^. Selanjutnya, pastikan terhubung ke internet karena semua software yang dibutuhkan tersedia di Server Repositories Ubuntu (lho? Karena Linux Mint adalah keturunan Ubuntu, jadi pake server repo-nya sama).

Kedua, jalankan konsol terminal Bagi yang suka GUI, silahkan akses Menu > Administration > Synaptic Package Manager. Di terminal, ketikkan perintah:

sudo apt-get install dhcp3-server [enter]

Secara otomatis Linux Mint akan mendownload semua file yang dibutuhkan dan melakukan instalasi DHCP3 Server. Sabar ya, kecepatan download bergantung pada kecepatan akses internet yang anda pake. Kecepatan instal bergantung pada kualitas PC yang digunakan ^_^.

Ketiga, setelah semua file selesai di-download dan di-instal. Jalankan perintah berikut:

sudo vim /etc/default/dhcp3-server

Cari teks yang berbunyi…

INTERFACES=””

Isikan nomor kartu jaringan yang akan digunakan, sehingga ditulis menjadi…

INTERFACES=”eth0″

Setelah di-isi, simpan perubahan itu dengan menekan tombol [Esc][ : ][w][q][Enter].

Kemudian lakukan edit juga pada file dhcpd.conf.

sudo vim /etc/dhcp3/dhcpd.conf

Cari baris yang berbunyi…

# option definitions common to all supported networks…
option domain-name “example.org”;
option domain-name-servers ns1.example.org, ns2.example.org;

default-lease-time 600;
max-lease-time 7200;

Ubah sehingga menjadi…

# option definitions common to all supported networks…
#option domain-name “example.org”;
#option domain-name-servers ns1.example.org, ns2.example.org;

#default-lease-time 600;
#max-lease-time 7200;

Masih di file yang sama, temukan baris yang berbunyi…

# A slightly different configuration for an internal subnet.
#subnet 10.5.5.0 netmask 255.255.255.224 {
# range 10.5.5.26 10.5.5.30;
# option domain-name-servers ns1.internal.example.org;
# option domain-name “internal.example.org”;
# option routers 10.5.5.1;
# option broadcast-address 10.5.5.31;
# default-lease-time 600;
# max-lease-time 7200;
#}

Dan ubahlah menjadi berikut…

# A slightly different configuration for an internal subnet.
subnet 192.168.0.0 netmask 255.255.255.0 {
range 192.168.0.100 192.168.0.200;
option domain-name-servers 202.188.0.133, 202.188.1.5;
option domain-name “tm.net.my”;
option routers 192.168.0.1;
option broadcast-address 192.168.0.255;
default-lease-time 600;
max-lease-time 7200;
}

Yang perlu diperhatikan, sesuaikan isinya dengan jaringan yang digunakan. Misalnya: Jika gateway yang anda gunakan menggunakan IP kelas C dengan bentuk:

192.168.1.x/24

maka anda akan memiliki data sebagai berikut:

  • subnet: 192.168.1.0
  • netmask: 255.255.255.0
  • broadcast address: 192.168.1.255
  • range IP: 192.168.1.1 – 192.168.1.254

Sekedar saran, untuk gateway, akan lebih mudah jika anda menggunakan IP yang paling-awal (192.168.1.1) atau paling-akhir (192.168.1.254).

Simpan semua perubahan yang anda lakukan dengan menekan tombol [Esc][ : ][w][q][Enter].

Terakhir, restart DHCP Server dengan memanggil perintah…

sudo /etc/init.d/dhcp3-server restart [enter]

Nah, sekarang tinggal membuktikan apakah klien memperoleh IP Address secara otomatis atau tidak. Sudah tahu kan caranya?

Sumber: http://ubuntuguide.org/wiki/Ubuntu:Feisty

Iklan