Mengukur Kompetensi Lulusan SMK

Berapa nilai yang layak bagi lulusan SMK yang kompeten? Untuk pelaksanaan Ujian Nasional 2009, pemerintah Republik Indonesia melalui Departemen Pendidikan Nasional menetapkan “harga” sebuah ijazah lulusan (yang saya tahu) SMK adalah rata-rata 5,50 (lima-koma-lima-nol). Nilai rata-rata ini diambil dari Nilai Ujian Nasional (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika) ditambah dengan nilai ujian praktek kejuruan (produktif). Dimana masing-masing juga memiliki ketentuan sebagai berikut (kalo ndak salah):

Siswa dinyatakan lulus bila:

  • Rata-rata nilai ujian nasional (B.Indonesia + B.Inggris + Matematika + praktek kejuruan) = 5,50
  • Nilai ujian nasional (B.Indonesia, B.Inggris, Matematika) memenuhi kriteria:
    • 2 (dua) materi ujian minimal 4,00
    • 1 (satu) materi ujian lainnya minimal 4,25
  • Lulus ujian teori kejuruan dengan nilai minimal 4,00
  • Nilai ujian praktek kejuruan minimal 7,00
  • Lulus ujian sekolah

Pertanyaannya… jika nilai untuk masing-masing mata ujian nasional (B.Indonesia, B.Inggris, Matematika) hanya memperoleh nilai minimal (4,00 + 4,00 + 4,25), demikian halnya dengan nilai ujian teori kejuruan (4,00), lantas berapa nilai “yang pantas” diberikan untuk ujian praktek kejuruan? Kalo dihitung, nilai yang pantas adalah (4,00 + 4,00 + 4,25 + 9,75) : 4 = 5,50

Jika yang paling-tidak-bisa saja nilai ujian prakteknya 9,75, berapa nilai yang layak untuk mereka yang sedikit-lebih-bisa? Untuk bidang kejuruan teknik lainnya mungkin masih bisa seorang siswa lemah di pelajaran normatif-adaptif-teori (kejuruan) namun hebat di bidang praktek; bagaimana mungkin bisa terjadi di jurusan “Rekayasa Perangkat Lunak”?

Padahal, jika mau diteliti lebih jauh, pencapaian nilai siswa tersebut disebabkan oleh banyak faktor. Diantaranya:

  • Faktor sekolah, yang meliputi: kompetensi guru/tenaga kependidikan, administrasi/manajemen sekolah, sarana-prasarana penunjang proses belajar mengajar, dan kepemimpinan di dalamnya.
  • Faktor lingkungan, baik lingkungan di sekitar sekolah dan tempat tinggal siswa. Lingkungan yang positif akan memberikan dukungan baik moril maupun materiil.
  • Faktor keluarga siswa, yang meliputi perekonomian dan tingkat pemahaman tentang pentingnya pendidikan.
  • Faktor pribadi siswa, minatnya pada suatu keterampilan kadang tidak sejalan dengan jurusan yang diambil. Beberapa siswa terpaksa mengambil suatu jurusan karena kalah/takut bersaing pada jurusan favorit.

Akhirnya, menengok kembali pada kondisi riil di sekolah kita masing-masing, pantaskah seorang siswa mendapat nilai 9,75 (sangat kompeten)? Puaskah pemerintah dengan meluluskan siswa dengan nilai kompetensi kejuruan 9,75 tanpa disertai kompetensi nyata?

Jika jawabnya ‘YA’, maka saya ucapkan selamat! anda sukses menjadi (calon) pengangguran.

One thought on “Mengukur Kompetensi Lulusan SMK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s